Ketik pencarian yang Anda inginkan

5 Tips Membuka dan Mengembangkan Bisnis Apotek


Menjalankan bisnis apotek memerlukan perencanaan dan strategi agar tidak salah jalan.
Seorang pemilik apotek yang tergolong sukses, bersedia berbagi tipsnya dalam mengembangkan apotek yang didirikannya belasan tahun silam. Beliau mengungkapkan kunci keberhasilannya kepada Buletin Kompak beberapa waktu lalu.

1. Memilih lokasi pendirian apotek dengan cermat

Menurut Hendi, salah satu pertimbangan penting saat pertama kali membuka apotek adalah pemilihan lokasi yang tepat. Beberapa unsur yang perlu diperhatikan yaitu kepadatan penduduk dan transportasi umum yang tersedia di sekitar lokasi. Upayakan untuk membuka apotek di daerah ramai dengan lalu lintas dua arah. Kemudian, lengkapi semua perizinan dan legalitas yang diperlukan sesuai dengan peraturan di lokasi apotek didirikan.

2. Memiliki dasar pengetahuan produk (product knowledge)

Usaha apotek memerlukan kepercayaan yang dapat diperoleh dari pengetahuan produk, termasuk bahan pokok, manfaat, aturan konsumsi dan lain-lain. Sebagai pemilik atau pendiri, sebaiknya mengetahui dasar-dasar hal tersebut, untuk ditularkan kepada staf dan pegawai lainnya. Jangan segan untuk mempelajari dari berbagai media, seperti buku atau internet. Hendi secara pribadi, beberapa tahun bekerja sebagai staf toko obat dan apotek sebelum akhirnya memilih untuk mendirikan sendiri.

3. Mengutamakan pelayanan yang memuaskan

Banyak apotek yang menyediakan obat yang sama. Namun apa yang membedakan apotek adalah pelayanannya. Setiap pertanyaan pelanggan, sebanyak apapun, harus bisa dijawab dengan baik. Berlakukan hotline atau nomor telepon yang menampung pelanggan. Siap untuk melakukan evaluasi dan menindaklanjuti setiap keluhan dengan serius. Jika perlu, berikan peringatan atau hukuman pada staf yang terbukti bersalah. Menjunjung tinggi pelayanan pada pelanggan yang memuaskan maka akan membangun citra yang sangat baik terhadap apotek.

Hendi menegaskan pentingnya apotek bisa mengaplikasikan pepatah yang mengatakan “pembeli adalah raja".

4. Memastikan ketersediaan stok

Untuk awal pendirian saat ini, Hendi memperkirakan, dengan modal sekitar Rp 100 juta dapat mempersiapkan stok obat sekitar 2.000 item. Jika belum memiliki catatan riwayat obat, maka sebaiknya membeli obat sesuai harga. Obat dengan harga yang murah beli dengan jumlah lebih banyak, dibanding obat yan.g lebih mahal. Setelah beberapa waktu, perhatikan data pembelian. Salah satu fenomena yang perlu diperhatikan yaitu obat yang gencar diiklankan di televisi atau media, biasanya akan laku keras.Namun, setelah beberapa saat biasanya terjadi penurunan pembelian. Hindari stok obat tersebut secara berlebihan.

5. Mengeliminasi biaya tersembunyi (hidden cost)

Ada banyak biaya tersembunyi yang dapat ditekan dari operasional apotek. Misalnya, biaya ekspedisi pengiriman obat. Perhatikan waktu dan hari pengiriman obat, maupun pengepakan barang yang maksimal. Jika dirasa ada permasalahan, segera lakukan pengawasan langsung untuk mencari pemecahannya. Hal ini akan membantu menghindari biaya tambahan. Hendi juga mencontohkan, biasakan memberikan aturan obat pengeluaran produk dengan prinsip rst in rst out (FIFO). Artinya, obat yang sudah lebih awal dalam stok, harus dijual terlebih dahulu. Mempraktekkan hal ini akan menghindari pengembalian obat karena masa daluarsa secara berlebihan.

Pada akhir perbincangan, Hendi juga berpesan agar tidak terlalu berlebihan dalam mengambil keuntungan agar produk tetap memiliki harga wajar saat dijual dan menjaga pengeluaran apotek tidak lebih besar dari pemasukan.